Kamis, 21 Mei 2009

Stasiun Ambarawa

Ambarawa sejak jaman Hindia Belanda merupakan daerah militer, sehingga Raja Willem I berkeinginan untuk mendirikan bangunan Stasiun Kereta Api, guna memudahkan mengangkut pasukannya untuk menuju Semarang.

Maka pada tanggal, 21 Mei 1873 dibangunlah Stasiun Kereta Api Ambarawa dengan luas tanah 127.500m2. Masa kejayaan stasiun Ambarawa yang lebih dikenal dengan sebutan Willem I, dihentikan pengoperasianya sebagai stasiun kereta api dengan jurusan Ambarawa – Kedungjati – Semarang dan tahun 1976 untuk lintasan Ambarawa secang – Magelang juga Ambarawa – Parakan Temanggung.

Dengan ditutupnya Stasiun KA Ambarawa, maka pada tanggal 08 Pebruari 1976. Gubernur Jawa Tengah Supardjo Rustam bersama Kepala PJKA Eksplotasi Soeharso memutuskan Stasiun Ambarawa dijadikan Musium Kereta Api dengan mengumpulkan 21 buah lokomotip yang pernah andil dalam pertempuran khususnya mengangkut tentara indonesia.

Menyusuri Lereng Pegunungan

Selain Musium Stasiun Ambarawa juga memiliki lokomotip tua yang masih sanggup untuk mendaki pegunungan dengan kereta bergerigi, salah satu kereta api bergerigi di indonesia dengan gagahnya yang mampu berjalan dalam kemiringan 60 derajat menuju Stasiun Bedono yang berjarak 9 km ditempuh dalam waktu 1 jam dan berkapasitas 90 orang. Wisatawan bisa menikmati panorama disepanjang perjalanan yang sangat mempesona. Gunung Ungaran, Gunung Merbabu yang menjulang tinggi serta hamparan rawa pening di bagian bawah, merupakan pemandangan yang kontras serta mengasyikkan.